Senin, 30 Juli 2012

A Baduy to Remember

Gambar di sebelah kanan kalian ini adalah salah satu dari sekian banyak bukti ketololan saya dan teman-teman SMA saya. Kalo liat gambar ini saya suka ketawa sendiri hahaha
 
Ceritanya, waktu kelas XII, sekolah mengadakan study tour. Yang IPA ke Halimun, sementara yang IPS ke Badui. Nah mungkin karena memang anak-anak otaknya udah pada sarap, jadilah kita bikin gambar diatas, terus kita tempel di dinding koridor dan kantin IPS. Hahaha..

Minggu, 29 Juli 2012

Sekotak Asbak dan Lighter Marlboro

Sebenernya sih ini gak penting buat ditulis tapi hal ini membuat saya tersenyum sendiri hehehe

Waktu saya ulang tahun tahun lalu, mereka memeberi saya kado sekotak asbak marlboro

Nah waktu saya ulang tahun kemarin, teman sekaligus sahabat saya waktu SMA ( keplek ) membelikan saya sebuah lighter berbentuk rokok marlboro

Kebetulan rokok saya adalah marlboro merah. Hahaha entah kebetulan atau enggak tapi yang jekas 2 hal ini suka bikin saya senyum-senyum sendiri. Hehehe

Buka Puasa Bersama SMA 68 Angkatan 2007 II

11 Agustus 2012, bertempat di Kuningan Village, Setiabudi. Saya dan teman-teman SMA 68 Angkatan 2007 akan mengadakan buka puasa bersama. Sungguh menyenangkan apalagi ini adalah tahun kedua kami membuat acara serupa. Lebih menyenangkan lagi melihat minat teman-teman 68 2007 yang masih tinggi untuk berkumpul. 

Sudah 5 tahun kami lulus dari SMA 68. Namun silaturahmi kami masih sangat terjaga. Saya teringat ketika tahun lalu saya membuat acara yang serupa, jumlah teman-teman yang hadir mencapai 43 orang. Mungkin jumlah itu tidak seberapa dengan jumlah total angkatan saya ( yang kurang lebih sekitar 300 orang ), tapi itu tidak jadi soal. Yang penting bagi saya adalah bagaiamana menjaga tali silaturahmi angkatan saya agar tetap terjaga.

Berbicara tentang silaturahmi, angkatan saya bisa dikategorikan sebagai angkatan yang kompak. Sejak SMA saya memang sudah mengetahui hal itu. Banyak kejadian-kejadian bodoh yang kita lakukan bersama-sama. Baik susah ataupun senang. Alhamdulilah sejak lulus SMA sampai sekarang, yang namanya kumpul-kumpul itu sering kita adakan. Mungkin ada benarnya bahwa dinamika pertemanan itu mengharuskan adanya sebuah konflik. Tapi bukannya dengan adanya konflik itu bisa saling mendewasakan kita semua? Konflik diciptakan bukan untuk dihindari, tapi untuk dikelola agar tidak meluas. Saya kira pengelolaan konflik itulah yang menjadi salah satu kenapa angkatan saya masih sering kumpul satu sama lain. 

Sekarang, kita semua sudah memasuki fase kehidupan ketiga setelah sekolah dan kuliah, yaitu fase dunia kerja. Alhamdulilah diantara teman-teman seangkatan saya, tidak ada yang berubah secara karakter. Mereka tetap sama seperti ketika kita masih SMA. Semoga pertemanan kita terus abadi, sampai anak cucu kita melihat betapa kuatnya pertemanan kita

Saya sayang kalian seperti saya menyayangi diri sendiri :)



Sabtu, 28 Juli 2012

Mengenal Lebih Dekat: “Jung Woo Sung”


Jung Woo Sung merupakan aktor asal Korea Selatan. Dia lahir di Seoul pada tanggal 20 Maret 1973. Saya mulai mengenalnya sewaktu menonton filmnya yang berjudul A Moment to Remember. Ketika itu dia berpasangan dengan pacar saya, Son Ye Jin. Rupanya berkat akting dia di film ini, sutradara kelas dunia, 
John Woo tertarik untuk mengajaknya bermain di film Reign of Assasins.

Woo Sung memulai debutnya sebagai aktor pada tahun 1994 di film The Fox with Nine Tails. Selanjutnya, di film Musa, ia mendapatkan kesempatan untuk beradu akting dengansuperstar dari Cina, Zhang Zhiyi.

Setelah itu, ia banyak membintangi sejumlah film yang menurut saya menaikan namanya di kancah perfilman Korea. Film-filmnya seperti A Moment to Remember, Daisy, Reign of Assasins, The Restless merupakan batu loncatan karirnya untuk dikenal di dunia internasional.

Banyak filmnya dia yang sudah saya review. Saya kira dia adalah aktor terbaik yang dimiliki Korea sekarang ini. Pembawaannya yang cool dan manly, serta piawai dalam memilih setra memerankan yang ia perankan membuat saya yakin dia akan menjadi aktor legendaris Korea satu saat nanti

Selayang Pandang: “Kenapa Harus Film Korea?"


Judul diatas adalah pertanyaan nyata teman-teman saya ketika saya mulai menyukai film Korea.

Dulu saya termasuk salah satu oran g yang anti sama drama korea, atau film-film sejenisnya. Tapi kenapa saya jadi suka film Korea ya ? hehe

Begini, pada dasarnya saya adalah penyuka film. Meskipun saya tidak terlalu tahu mengenai istilah-istilah teknis perfilman. Dan ketika saya sudah menyukai sesuatu, maka akan saya dalami sesuatu itu.

Kisah cinta saya dengan film-film Korea ini dimulai pada saat saya sedang bercinta dengan trilogi A Chinese Ghost Story. Pada saat ini saya menyukai Joey Wang, yag merupakan lead actress di film tersebut. Nah sejak saat itu  saya mulai kepo  dengan film-film asia. Terlebih lagi setelah saya menonton Hear Me. Maka mulailah pdkt saya dengan film-film Asia hehe

Film Korea yang pertama saya tonton adalah My Girl and I.  Sejak itulah saya terus menggali informasi mengenai film-film korea, baik di Wikipedia  atauoun di AsianWiki.

Semenjak menikmati film-film Korea itulah, mata saya terbuka. Bahwa Industri Perfilman Korea Selatan merupakan sebuah Industri film yang tumbuh subur, bersaing dengan Bollywood, Industri Perfilman Hongkong, Jepang dan Hollywood sekalipun.

Saya bukan orang yang mudah terjebak dalam aliran mainstream. Bagi saya, mainstream  atau bukan tidak jadi soal. Yang penting saya nyaman menikmati film tersebut. Tapi impact dari Korean Wave rupanya tidak bisa saya hindari. Dalam pengertian bahwa film Korea itu tidak monoton. Meskipun kental unsur drama-nya, tapi tidak corny. Banyak tema yang diangkat justru dari kehidupan sehari-hari. Ini merupakan sebuah formula yang harusnya menjadi contoh bagi perfilman kita. Film-film Korea itu kreatif dalam membuat jalan cerita, sehingga kita mudah sekali untuk terbawa hanyut dalam cerita tersebut. Disamping itu, para aktor dan aktrisnya ( terutama aktrisnya, karena mukanya pada bikin sayang semua hehe ) memerankan peran mereka dengan begitu dalam. Sehingga penjiwaan peran mereka melebur dalam cerita film tersebut. Saya kira formula inilah yang menjadi daya tarik mengapa saya menyukai film Korea.

Selain itu, film-film Korea dapat menjadi refleksi serta alternatif kita ketika kita sudah mulai jenuh dengan film-film Hollywood. Maka dari itu jangan heran kalau orang-orang di sekeliling kita begitu menggilai film Korea. Mereka tidak salah, karena kita sudah muak dengan tontonan yang itu-itu saja. Sinetron di televisi kita tidak menyajikan sesuatu yang fun untuk dinikmati. Hanya beberapa film lokal saja yang berkualitas. Sisanya dipenuhi dengan film-film komedi-horor-seks yang tidak edukatif. Jadi kemana kita bisa berpaling sewaktu perfilman lokal kita atau Hollywood tidak sedang menghasilkan film-film terbaiknya?    

Review Film: “The Good, The Bad, The Weird ( 2010 )”


Director: Kim Ji Woon
Duration: 139 Minutes
Genre: Action
Cast: Jung Woo Sung, Lee Byung Hun, Song Kang Ho
Score: 9.0/10

Amazing!

Inilah yang bisa saya simpulkan setelah menonton film ini. Bisa kalian bayangkan, Jung Woo Sung beradu akting dengan Lee Byung Hun? Well saya harus mengakui kali ini yang memenangkan pertarungan tersebut adalah Lee Byung Hun. Byung Hun memerankan tokoh The Bad aka Park Chang Yi dengan begitu kejam dan dingin. Keren!

Disinilah kita bisa melihat dasyatnya sineas Korea menggarap film yang bertemakan wild west. Meskipun yang main adalah pemeran Korea Selatan, namun anehnya tidak menimbulkan keanehan di mata saya. Jadi, janganlah kalian menganggap film-film Korea itu hanya bertemakan drama doang. Mereka nyatanya ahli dalam menggarap tema-tema film yang tidak biasa . hehe

Bukti kesuksesan film ini adalah memenangkan beberapa penghargaan di berbagai festval film seperti Hawaii International Film Festival 2008, 29th Blue Dragon Film Awards, 2009 Asian Film Awards dan 41st Sitges Film Festival

Film ini menceritakan tentang  seorang pemburu bandit bernama The Good aka Park Do Won ( Jung Woo Sung ), sang bandit The Bad aka Park Chang Yi ( Lee Byung Hun ) dan seorang pemburu harta karun The Weird aka Yoon Tae Goo ( Song Kang Ho ) dalam perburuan mereka mencari harta karun peninggalan tentara Jepang.

Do Won pun bekerjasama dengan  Tae Goo untuk memburu harta karun tersebut. Namun yang mereka hadapi tidaklah mudah. Selain akan berhadapan dengan bandit kelas kakak Chang Yi, mereka pun harus berhadapan dengan ganasnya tentara Jepang beserta altilerinya yang kuat.

Selamat Menonton!



Jumat, 27 Juli 2012

Review Film: “Daisy ( 2006 )”


Director: Andrew Lau
Duration: 125 Minutes
Genre: Action, Romance
Cast: Jung Woo Sung, Jun Ji Hyun, Lee Sung Jae
Score: 7.0/10

Daisy  menceritakan tentang kisah cinta segitiga antara sang pelukis Hye Young ( Jun Ji Hyun ), sang pembunuh bayaran Park Yi ( Jung Woo Sung ) dan sang deketif Jeong Woo ( Lee Sung Jae )

Hye Young adalah pelukis yang tinggal di Amsterdam. Dia sering menerima kiriman bunga daisy dari orang tidak dikenal. Hal ini justru yang membuat Hye Young merindukan sang pengirim bunga miserius tersebut.

Adalah Park Yi, seorang pembunuh bayaran yang sedang jatuh hati kepada Hye Young. Namun dia hanya bisa mengamati saja tanpa ingin bertemu langsung dengan Hye Young

Detektif Jeong Woo bekerja di Interpol. Dia berada di Amsterdam untuk menangkap gembong obat bius terkenal. Satu ketika, ia minta dilukis oleh Hye Young. Lama kelamaan mereka jadi akrab. Hye Young pun mengira bahwa Jeong Woo adalah lelaki misterius yang sering mengirim bunga daisy kepadanya. Hye Young pun jatuh hati kepada Jeong Woo tanpa mengetahui identitas Jeong Woo yang sebenarnya.

Hal ini membuat Park Yi jeaolus. Apalagi Park Yi tau bahwa Jeong Woo ini adalah seorang polisi. Maka satu ketika, pada saat Jeong Woo dan Hye Young diserang oleh para gembong obat bius, Park Yi dengan sniper riffle-nya menembak bahu Jeong Woo hingga terluka hingga dipulangkan ke negara asalnya.

Kesempatan ini digunakan oleh Park Yi untuk berkenalan dengan Hye Young. Mereka kemudian akrab. Tapi sayangnya Hye Young masih mencintai Jeong Woo. Sampai satu kejadian menimpa Hye Young yang mengharuskan dia kehilangan pita suaranya

Bagaimana selanjutnya? Silahkan nonton sendiri hehe

Daisy menyajikan visualisasi pemandangan kota Amsterdam yang romantis dan artistik. Scoring-nya pun juara! Sang Director Andrew Lau memang sudah familiar dengan genre film seperti ini. Pengalamannya menyutradarai trilogy Internal Affairs pun membuat film ini memiliki nilai lebih. Perpaduan antara  set  yang artistik, scoring musik klasik dan cerita yang dramatis. Bravo!

Selamat menonton!
­